Sisi Unik Kampung Warna-Warni Jodipan di Malang

Sore itu sekitar pukul 4 sore selepas menghadiri wisuda salah seorang teman, saya dan teman yang juga teman kuliah yang kini sudah bekerja di Surabaya mengunjungi sebuah lokasi yang saat ini sedang naik daun atau ‘hitz’ dikalangan instagramer, yaitu Rio de Jodipan Neiro atau Kampung Warna-Warni Jodipan di Malang yang lokasinya tak jauh dari Pasar Besar Malang. Kenapa disebut Rio de Jodipan Neiro karena beberapa wisatawan dan warga Kota Malang yang pernah mengunjungi Kampung Warna-Warni Jodipan menilai bahwa kampung ini memiliki kemiripan dengan kawasan pemukiman ‘Kickstarter’ yang terdapat di Rio de Janeiro, Brazil.

Kampung warna-warni jodipan

Kondisi waktu itu jalanan di sekitar Rio de Jodipan Neiro sangat macet, mungkin hal ini dikarenakan waktu kami berkunjung ke sana bertepatan dengan weekend dan terdapat beberapa acara wisuda di kampus besar yang ada di Malang. Setibanya di sana kami memarkir sepeda motor di tempat yang sudah disediakan. Lalu kami melangkahkan kaki menuju salah satu gang di mana terdapat gapura yang merupakan salah satu pintu masuk utama Kampung Warna Warni Jodipan.

Kedatangan saya dan teman ke Rio de Jodipan Neiro waktu itu merupakan kunjungan kami untuk pertama kalinya ke wisata kampung warna-warni jodipan, meskipun sebenarnya tempat tinggal saya saat merantau di Kota Malang tidak terlalu jauh dari Kampung Warna Warni Jodipan dan hampir setiap hari ketika saya pulang dari kampus pasti melewati tempat tersebut. Cukup dengan membayar tiket masuk Jodipan Malang seharga Rp. 2.000 yang ditukar dengan stiker dengan logo singa khas “Arema” yang dibubuhi corak abstrak dan terdapat tulisan “Kampung Wisata Jodipan”.

Saya dapat mengasumsikan bahwa stiker itu sebagai tiket masuk dan uang kebersihan. Akhirnya kami bisa menikmati cita rasa seni lewat akulturasi warna yang tergoreskan cantik pada dinding hingga atap setiap rumah warga yang ada di sana. Selain permainan akulturasi warna pada setiap rumah warga yang ada di sana, terdapat juga beberapa lukisan dan mural yang digoreskan dengan cita rasa seni urban pada beberapa tembok rumah.

Dari gapura masuk kami harus menuruni beberapa anak tangga yang cukup curam sekitar 50 meter untuk dapat menuju lapangan yang merupakan spot utama para instagramers untuk menikmati serta mengekspresikan pemandangan cita rasa seni urban yang ada dengan berselfie maupun berfoto.

Setiap rumah di wisata kampung warna-warni malang ini memiliki permainan warna yang berbeda-beda dan tak jarang membuat decak kagum bagi wisatawan yang pernah berkunjung ke sana. Namun terdapat transisi warna cat di salah satu tembok yang berada di lapangan dan di tempat itulah yang menjadi spot utama para pengunjung untuk berfoto. Terkadang harus mengantri agar bisa berfoto pada salah satu tembok di mana terdapat transisi warna yang cukup menarik untuk dijadikan background.

Kampung Jodipan Tidak Kumuh Lagi

Suatu sore sekitar 6 tahun lalu, saya mulai memasuki Kota Malang dengan menumpang kereta api. Kereta api yang saya tumpangi terasa seperti sedang mendaki sebuah punggungan bukit dan ketika menengok ke arah jendela kereta tiba-tiba mata saya disuguhkan oleh hamparan pemandangan Kota Malang yang berada di bawah kereta yang saya tumpangi lengkap dengan pemukiman padat berundak yang terkesan kumuh namun tersusun rapi mengikuti aliran sungai.

Baca juga : 6 tempat wisata murah di Malang

Ciri khas pemukiman urban yang terdapat di wilayah yang berada di ketinggian dengan kontur yang berbukit-bukit. Salah satu pemukiman yang saya liat dari atas kereta itulah yang kini menjadi Rio de Jodipan Neiro (Kampung Jodipan), salah satu pemukiman kumuh yang kini telah bersolek dan berhias dengan permainan warna cat pada setiap rumah.

Keberadaan kampung warna-warni malang Jodipan ini bukanlah suatu hal yang tiba-tiba apalagi diprakrasai oleh pemerintah setempat. Gagasan untuk mengecat kampung ini muncul dari salah satu kelompok praktikum Public Relation (PR) yang terdiri dari Delapan orang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok ‘Guys Pro’ dalam mengawal sebuah event perusahaan cat yang sedang melakukan program Corporate Social Responsibility (CSR).

Rumah di kampung Jodipan berkonsep Cow Boy

Rumah di kampung Jodipan berkonsep Cow Boy

Menurut data yang saya dapat dari beberapa referensi bacaan, sebelum Kampung Jodipan atau Rio de Jodipan Neiro menjadi terkenal karena fotonya telah dibagikan oleh beberapa orang di sosial media dan akhirnya menjadi destinasi wisata alternatif di Kota Malang sekarang ini yang diprakarsai oleh kelompok Guys Pro, awalnya mereka berkeinginan untuk mengubah perilaku warga di sekitaran bantaran sungai yang membuang sampah ke sungai.

Kelompok Guys Pro ini memakai pendekatan kepada masyarakat di Kampung Jodipan dengan melakukan pengecatan pada beberapa rumah yang dimaksudkan agar rumah-rumah di sana tidak terlihat ‘kusam’. Selain itu hal tersebut dilakukan agar masyarakat lebih memperhatikan masalah sanitasi. Rencana itu pun mendapatkan persetujuan dari tokoh masyarakat di kampung tersebut dan mendapatkan respon positif dari masyarakat sekitar pemilik rumah yang RT-nya termasuk kedalam wilayah yang akan di ‘operasi plastik’ oleh kelompok Guys Pro. Alasan mengapa Kampung Jodipan yang dipilih oleh kelompok Guys Pro, lantaran Kampung Jodipan memiliki lanskap yang bagus apabila dilihat dari Jembatan Brantas di Jalan Gatot Subroto.

Dalam proses menyulap Kampung Jodipan menjadi Rio de Jodipan Neiro, kelompok Guys Pro dibantu perusahaan cat yang memberikan dana CSR untuk menyulap Kampung Jodipan mengerahkan sebanyak 30 tukang cat yang dibantu unsur TNI/Polri dan warga sekitar tentunya dalam menyulap wajah kampung kumuh Kampung Jodipan menjadi seperti sekarang ini, selain itu dalam proses pengerjaanya juga terdapat keterlibatan beberapa komunitas mural dan seniman untuk melukis dinding rumah warga dalam proses mempercantik penampilan Kampung Jodipan yang telah dilakuan sejak bulan Juni 2016.

Sisi Lain Kampung Jodipan

Setelah kurang lebih 3 menit berhasil menuruni puluhan anak tangga dari gapura gang yang merupakan pintu masuk tadi, akhirnya saya dan teman tiba di sebuah lapangan yang berada di pinggir sungai yang merupakan spot utama bagi para pengunjung Kampung Warna-Warni Jodipan untuk berfoto. ‘Ngene toh rupane’(gini toh wujudnya), itulah yang pertama kami ucapkan waktu itu ketika sampai dan setelah mengatur nafas di lapangan yang kalau diperhatikan dengan jelas merupakan lapangan bulu tangkis atau volley yang.

Sore itu waktu kami tiba di sana cuaca cukup mendung dan berangin, tapi sama sekali tidak kunjung hujan sampai kami meninggalkan Kampung Warna-Warni Jodipan. Teman saya ini yang badannya sedikit gemuk perlahanlahan mulai menghilang mencari tempat untuk duduk agar dapat menikmati suasana sore. Beberapa anak kecil cukup menarik perhatian dan saya pun mengabadikannya saat mereka sedang asyik bermain layangan di antara ramainya pengunjung.

Hal yang terbesit dalam pikiran saya waktu itu apakah mereka tidak merasa terganggu dengan keberadaan para pengunjung, termasuk saya dan teman di lingkungan mereka? tak mau ambil pusing saya pun terus mengikuti beberapa anak untuk mengambil beberapa gambar. Saya sempat menanyakan kepada salah satu anak kecil yang saya jadikan objek untuk difoto ‘le, kon ga risih akeh uwong koyok ngene iki?’ (apa kamu tidak risih banyak orang seperti ini) dan mereka pun mayoritas menjawab “ga kok mas’.

Banyaknya pengunjung menjadi salah satu peluang bagi masyarakat di sana untuk membuka usaha semisal menjual makanan-minuman dan souvenir, selain itu masyarakat Kampung Warna-Warni di Jodipan pada akhirnya akan diuntungkan karena akan mendapatkan banyak pengetahuan mengenai dunia luar karena interaksi mereka dengan wisatawan yang berkunjung ke sana, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Setelah puas mengabadikan foto anak-anak Kampung Jodipan yang bermain layangan.

toko kelontong di kampung Jodipan

Saya kemudian mencoba berkeliling melihat-lihat sisi lain dari Kampung Warna-Warni Jodipan. Ternyata bukan hanya tembok rumah-rumah warga saja yang dicat, namun genteng, kusen pintu, dan jendela juga di cat dengan apik sehingga menjadikannya seperti permainan mozaik warna apabila dilihat dari kejauhan. View terbaik adalah melihatnya dari atas Jembatan Brantas.

Puas mengitari pelosokpelosok gang hingga masuk ke gang buntu yang dibumbui dengan obrolan ringan selama ‘blusukan’ di Kampung Warna-Warni Jodipan, akhirnya kami berdua sepakat untuk membeli layangan dan ikut bergabung bersama beberapa anak yang tadi saya abadikan dalam kamera. Saat sedang menikmati bermain layangan bersama anak-anak Kampung Warna-Warni Jodipan, telinga saya sayup-sayup mendengar suara kereta api yang akan melintas. Hal tersebut tidak boleh terlewat untuk diabadikan di hari-hari terakhir saya di Kota Malang.

Dengan tergesa-gesa saya pun menyerahkan benang layangan yang sedang saya mainkan kepada seorang anak kecil yang sedang bermain layangan. Saya pun berhasil mengabadikan momen melintasnya kereta api Rapih Dhoho – Penataran yang 6 tahun lalu saya tumpangi untuk menyaksikan pemandangan pemukiman kumuh yang kini sudah bertransformasi. Saya memandangi kereta api penuh sejarah dan kenangan ketika memulai perantauan di Kota Malang melintas menjauh menuju Stasiun Malang (Malang Kota Baru). Setelah mengabadikan momen tersebut bulu kuduk saya sempat dibuat berdiri dan saya sempat terdiam beberapa saat, hingga teman saya dan anak-anak warga Kampung Warni-Warni Jodipan yang tadi sedang bermain bersama saya berteriak memanggili saya.

Baca juga : Wisata goa Pindul di Yogyakarta

Akhirnya saya pun kembali melanjutkan bermain kembali bersama mereka. Kami sempat mengerjai beberapa pasangan muda-mudi dan beberapa pengunjung yang ada di sana dengan benang layangan kami. Awalnya tidak sengaja namun lamakelaman menjadi suatu hal yang lucu. Ada beberapa pengunjung yang berusaha menghindari benang layangan hampir terperosok ke sungai. Kami yang sedang bermain layangan pun sempat diabadikan oleh beberapa wisatawan mancanegara yang sedang berkunjung pada waktu itu.

Akomodasi ke Kampung Jodipan

Untuk menuju kesana cukup mudah, karena Kampung Warna-Warni Jodipan ini berada di tengah kota dan terdapat banyak pilihan transportasi untuk menuju kesana, hal ini dikarenakan lokasi Kampung WarnaWarni Jodipan ini cukup strategis karena berada di jalan utama Blitar-Surabaya.

Selain itu, Kampung Warna Warni Jodipan berada di dekat stasiun Kereta Api, ada dua stasiun kereta api yang dekat dengan Kampung Warna-Warni Jodipan, yaitu Stasiun Malang (Malang Kota Baru) yang berjarak sekitar 750 M dan Stasiun Malang Kota Lama yang berjarak sekitar 2,5 KM yang dapat dicapai dengan menggunakan Angkutan Umum dengan huruf AMG (Tarif Rp. 3.500), bisa juga menggunakan becak (Rp 5.000 – Rp. 15.000), atau mungkin berjalan kaki jika ingin sehat dan berhemat.

Leave a Reply