Perjalanan Seru ke Tempat Wisata Taman Nasional Komodo

Dikenal sebagai tempat cagar alam untuk melindungi hewan purba Komodo, ternyata ada tempat wisata Taman Nasional Komodo yang sangat cantik dan sayang kalau tidak di eksplore. Objek wisata Taman Nasional Komdo mempunyai lanskap yang sangat cantik dan memukau wisatawan yang datang ke sana. Ada banyak cara untuk mengunjungi tempat ini, bisa mengikuti paket tour Taman Nasional Komodo atau backpaker bersama teman.

tempat wisata taman nasional komodo

Penasaran seperti apa cantiknya tempat ini ? Inilah cerita saya saat menjelajahi tempat wisata di Taman Nasional Komodo bersama teman dan rombongan tour.

Pesawat yang membawa kami ke pulau Komodo berangkat sekitar jam 08.00 pagi dari bandara baru Ngurah Ray yang terlihat megah itu.Terbilang cukup banyak operator yang melayani penerbangan rute Denpasar – Labuan Bajo dan sebaliknya. Hampir semuanya menggunakan pesawat kelas menengah, seperti ATR 70 atau MD 60 dengan kapasitas sekitar 50 orang. Menariknya lagi saat berada di dalam pesawat, saya melihat hampir 75 per-sen penumpang adalah turis asing, sama halnya saat kembali dari Labuan Bajo menuju Denpasar. Sepertinya Labuan Bajo sudah menjadi destinasi wisata yang cukup diminati wisatawan mancanegara.

Baca juga : Berlin surganya wisata murah di Jerman

Menjelang pendaratan keindahan Taman Nasional Komodo sudah tampak terlihat. Gugusan pulau berpasir putih dan laut dengan gradasi warna hijau ke biru yang terlihat dari pesawat telah memompa andrenalin untuk segera menjelajahinya. Begitu mendarat di Labuan Bajo, ternyata terminalnya masih kecil, sedangkan pengembangan bandara yang lebih modern dan besar belum rampung. Kami menunggu di ruang kedatangan yang tidak terlalu luas. Tidak ada belt conveyor untuk bagasi seperti di bandara besar lainnya. Para turis menyemut ketika bagasi diturunkan, mereka harus menunjukkan label bagasi untuk mengambil barang ke petugas yang mengumumkan secara manual lewat pengeras suara.

Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Satu-persatu turis sudah dijemput agen perjalanan, hingga tinggal saya bersama teman dan sepasang suami istri. Belakangan saya baru tahu ternyata mereka dari Malaysia dan yang akan menjadi teman perjalanan selama menjelajah Taman Nasional Komodo. Kami berempat akhirnya yang tertinggal di ruang tunggu karena ada mis komunikasi antar agen travel dengan mobil penjemputan. Setelah menunggu sekitar setengah jam akhirnya guide dari biro perjalan datang, dan kami langsung menuju pelabuhan dengan berputar-putar kota Labuan Bajo dahulu.

Pelabuhan Labuan Bajo

Pelabuhan di Labuan Bajo

Terletak di Pulau Flores, Labuan Bajo merupakan ibukota Manggarai Barat, yang merupakan pulau terdekat untuk menuju Pulau-pulau yang dihuni oleh komodo. Sejarah panjang kota ini tidak lepas dari Pelaut suku Bajo, rumpun dari suku Bugis (Sulawesi) yang mendarat di lokasi ini. Sehingga sering disebut sebagai “Pelabuhan Orang Bajo”, kurang lebih seperti itulah sejarah kota ini dan asal nama Labuan Bajo. Cerita panorama yang indah di waktu senja masih belum bisa kami buktikan kala itu, karena waktu kami datang matahari masih berada tepat di atas kepala.

Akhirnya kami dibawa ke jalan Puncak Waringin, disitu bisa terlihat teluk Labuan Bajo yang indah dari ketinggian. Pantainya yang menghadap ke barat biasanya menampilkan semburat senja yang indah, ditambah lagi kapal-kapal berbentuk pinisi yang lalu lalang keluar masuk akan menambah pesona pelabuhan Labuan Bajo. Di sepanjang jalan juga banyak agen perjalanan yang menawarkan diving tour. Tabung-tabung oksigen yang berjajar di gerai menandakan jasa yang ditawarkan. Untuk turis yang tidak ikut paket tour seperti kami, biasanya memakai jasa mereka untuk menjelajahi Taman Laut Komodo.

Menginap Diatas Boat

Setelah puas keliling kota Labuan Bajo dan foto-foto dari ketinggian, kami langsung menuju pelabuhan dan langsung menurunkan barang bawaan untuk dimasukan ke dalam kapal tradisional. Menurut penjelasan guide, ternyata paket tour-nya adalah 4 hari 3 malam dan selama itu pula kami akan menjalaninya di atas kapal. Kami tidak menginap di homestay atau penginapan di pulau-pulau yang akan dikunjungi. Terus terang kami agak kaget mendengar penjelasannya, tetapi sekaligus tertantang untuk mencoba model travel baru yang memang menjadi standart travel di wilayah Pulau Komodo.

Sebelum berangkat kami disarankan membeli makanan kecil, walaupun menurut guide nanti di kapal akan disediakan snack. Membayangan hidup 4 hari 3 malam tanpa ketemu penduduk dan toko, kami memutuskan membeli snack secukupnya. Di akhir perjalanan snack tersebut ternyata tidak terlalu dilirik, karena pisang goreng yang selalu tersedia lebih menggoda apalagi dicicipi setelah melakukan kegiatan di laut seperti Kami menginap di sebuah kapal tradisional sejenis pinisi, dengan 2 anak buah kapal (ABK) dan kapten yang merangkap sebagai guide. Ukuran kapalnya tidak terlalu besar, panjang sekitar 20 meter dan lebarnya 3 meter. Terdapat 5 kamar tidur sederhana di bagian bawah yang bisa menampung 2 orang di setiap kamarnya.

Baca juga : Kampung warna-warni Jodipan di Malang

Untuk sekali trip sebenarnya bisa menampung 10 peserta, namun karena waktu itu hanya 4 orang, maka tempat untuk tidur pun agak lapang. Di bagian tengah kapal ada meja untuk makan bersama ataupun bersantai selama menginap. Selain itu para tamu juga bisa bersantai di atap kapal yang memang khusus disediakan untuk menikmati pemandangan sambil duduk-duduk di kursi malas. Setelah 1 jam perjalanan, ABK yang merangkap jadi juru masak mulai menghidangkan makan siang, karena waktu sudah sekitar jam 13.00. ABK yang semuanya adalah pria,
menghidangkan menu yang tak kalah lezatnya dengan masakan restoran. Dengan lauk ikan, sambal dan sayur, makanan yang di sajikan ludes kami santap berempat. Sepertinya kami sudah mulai bisa menikmati perjalanan menjelajahi Taman Nasional Komodo dengan kapal tradisional ini.

Berlabuh di Pulau Kanawa

Setelah membelah perairan selama lebih kurang 2 jam, kami tiba di pulau pertama yaitu Kanawa. Pulau Kanawa yang gersang namun memiliki pantai indah dengan pasir putih serta air lautnya yang jernih, bergradasi warna dari hijau muda ke biru tua. Menurut informasi ABK, Pulau yang cantik ini sudah disewa oleh orang asing dan mereka mendirikan resort-resort sederhana di sana. Walaupun kelihatan sederhana namun harga yang harus dibayar relatif mahal karena segala sesuatunya, termasuk air tawar di suplai dari Labuan Bajo.

Lanskap pulau Kanawa

Lanskap pulau Kanawa

Di bawah cuaca yang panas, hari itu saya bersama teman tanpa pikir panjang langsung menceburkan diri ke laut untuk snorkeling di pulau Kanawa sepuasnya. Banyak soft coral dan juga aneka ragam ikan, mulai dari nemo yang lucu sampai ikan pari. Menariknya lagi kami berjumpa dengan hiu, walaupun ukurannya kecil namun itu sudah membuat istri saya langsung mengakhiri kegiatan snorkeling di Pulau Kenawa. Sekembalinya ke kapal ternyata sudah disediakan gorengan. Ya, gorengan, entah itu pisah goreng, tempe goreng atau otek-otek panas menjadi
makanan favorit sehabis snorkeling.

Pemandangan bawah laut pulau Kanawa

Pemandangan bawah laut pulau Kanawa

Teman seperjalanan dari malaysia ternyata tidak melakkukan kegiatan snorkeling, mereka berdua hanya jalan-jalan di sekitar pantai. Belakangan baru tahu ternyata mereka tidak pandai berenang. Sangat disayangkan menjelajahi lautan tanpa menikmati alam bawah laut yang indah. Setelah puas menelusuri daratan dan pantai Kenawa, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Giri Lawa.

Menikmati Sunset di Gili Lawa

Penjalanan dari Kenawa ke pulau Gili Lawa sekitar 2 jam, sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya kami mengagumi keindahan Taman Nasional Komodo dengan banyak pulau yang gersang dan lautnya yang biru. Pemandangan akan sangat kontras dan indah jika ada awan putih berarak di langit biru. Setelah sampai di Gili Lawa, Kapten kapal mencari tempat di teluk yang lautnya tenang dan dekat de ngan pantai. Kapten menawarkan alternatif untuk kegiatan sore itu sampai malam harinya, dari snorkeling, trekking melihat sunset di Gili Lawa dengan bukit kecil atau melihat sunset di Gili Lawa Darat yang lebih tinggi.

Setelah berdiskusi dengan pertimbangan lokasi untuk mengambil foto, kami putuskan untuk sore hari kami trekking di bukit kecil saja. Perjalanan naik ke Giri Lawa cukup memakan waktu, khawatir belum mencapai puncak matahari sudah tenggelam. Sementara itu turun di waktu gelap cukup membahayakan. Lagipula jika dilihat dari posisinya, Giri Lawa Darat akan lebih menarik dikala sunset. Trekking ke bukit kecil tidak membutuhkan waktu lama, saya memperkirakan dari pantai ketinggiannya hanya sekitar 100 m. Melewati jalan berkelok ternyata hanya butuh
waktu sekitar 20 menit untuk mencapai puncaknya. Sepanjang perjalanan hanya rumput kering yang tampak, karena saat kami berkunjung di bulan november masih belum musim penghujan. Rumput-rumputnya kelihatan dalam masa kritis antara hidup dan mati, namun nantinya akan tergantikan dengan rumput baru jika hujan sudah mulai turun.

Sunset di Gili Lawa

Sunset di Gili Lawa

Menikmati sunset dan perubahan langit adalah moment yang paling saya tunggu untuk diabadikan, sungguh indah sunset dibukit kecil giri lawa. Setelah matahari benar-benar hilang dari pandangan dan langit mulai gelap, kami kembali ke kapal dan menikmati malam yang hening dengan langit penuh bintang. Pagi-pagi setelah solat subuh saya memutuskan mendaki Giri Lawa sendirian, istri tidak ikut karena baru lihat gunungnya sudah menyerah. Walaupun tingginya hanya sekitar 400 meter, butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai puncaknya.

Dengan jalan yang terjal dan banyak bebatuan lepas, beberapa kali saya hampir jatuh dibuatnya. Setelah sampai puncak pemandangannya tidak kalah dengan di saat sunset. Dengan posisi gunung yang lebih tinggi, maka area pandangnya lebih luas. Dengan bukit-bukit kecil yang indah, sunrise di puncak Giri Lawa merupakan salah satu terindah yang pernah saya alami. Setelah puas mengabadikan keindahan dari berbagai sudut dan matahari sudah mulai panas, saya turun kembali ke kapal.

Disaat santai setelah makan pagi, tiba-tiba terdengar teriakan sang kapten, “Paus, paus,paus”. Bergegas kami naik ke atas kapal untuk melihat lebih dekat. Sayangnya yang kelihatan hanya waktu mengambil nafasnya saja, saat paus tersebut memancarkan air ke udara. Setelah agak dekat baru kami tahu bahwa paus tersebut ternyata berjumlah 3 ekor. Besarnya mungkin lebih besar dari kapal yang kami tumpangi. Sangat sulit mengabadikan paus tersebut karena durasi mengambil nafas tidak tentu. Setelah beberapa lama, kapten sadar bahwa sepertinya ketiga paus tersebut hanya berputarputar di teluk dan tidak bisa ke laut lepas lewat selat yang ada.

Melihat kejadian tersebut kapten mengambil inisiatif untuk menggiring paus paus tersebut keluar selat, butuh waktu dan usaha keras untuk dapat menggiring paus tersebut ke laut bebas. Setelah sekitar 2 jam berputar-putar di teluk Giri Lawa, akhirnya paus paus tersebut menjauh melalui selat menuju alam bebas. Benar-benar mendapatkan pengalaman menarik sebagai bonus yang tidak ada di jadwal tour. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Batu Bolong, salah satu pulau dengan alam bawah lautnya yang indah dan merupakan spot diving yang terkenal. Walaupun arusnya kuat, tetapi kami tetap melakukan snorkeling karena kalaupun lapar setelah naik kapal pasti ada pisang goreng yang bisa mengembalikan energi kami.

Kondisi arusnya yang kuat membuat kami hanya bertahan sekitar 1 jam snorkeling di Batu Bolong karena badan sudah tidak kuat menahan arus. Tujuan selanjutnya adalah Taka Makasar, sebuah pulau pasir putih di tengah laut dengan pantai yang bening dan semakin ke dalam semakin banyak terumbu karang, baik yang soft maupun keras, ikannya pun sangat beraneka ragam karena lingkungannya masih perawan. Disaat tertentu lokasi ini merupakan lokasi yang baik untuk melihat manta (ikan pari), sayang saat itu kami tidak melihatnya walaupun sudah 2 jam snorkeling.

Setelah puas mencoba segala teknik fotografi yang ada dan mendapatkan beberapa gambar yang menurut saya bagus kami segera meninggalkan lokasi tersebut. Begitu naik ke kapal pisang goreng, otek-otek panas dan juice sudah terhampar di depan mata.

Pink Beach, Satu-satunya Pantai Yang Pasirnya Berwarna Pink

Pantai Merah atau Pink Beach pulau Komodo adalah tujuan kami selanjutnya, sebuah pantai dengan pasir warna pink, salah satu dari sedikit pantai berwarna di dunia, menurut keterangan guide bahwa warna merah tersebut adalah pecahan koral yang berwarna merah, atau sejenis ganggang merah. Saat itu kondisi arus dipantai besar dan baru saja ramai dikunjungi. Banyak kapal yang berlabuh untuk menikmati pantai merah, dari 4 kapal dan sekitar 30 orang yang ada di pantai merah, hanya saya dan teman yang orang indonesia, sungguh aneh di negeri sendiri jadi
minoritas. Pantai Pink termasuk tempat wisata yang bagus di Taman Nasional Komodo, rasanya sayang banget kalu tidak singgah ditempat ini.

Pink Beach di pulau Komodo

Pink Beach di pulau Komodo

Bila mengunjungi pantai pink di pulau Komodo ini, jangan kaget bila berjumpa dengan hewan purba Komodo. Spesies hewan jenis reptil yang paling besar dan hanya terdapat di Indonesia. Bila bertemu dengan Komodo sebaiknya segera pergi jauh-jauh darinya sebab komdo akan mengira manusia adalah musuh. Wanita yang lagi haid jangan sekali-kali dekat dengan hewan ini, Komodo bisa mencium bau darah dan hewan tersebut sangat menyukainya.

Wisata pulau Komodo Destinasi Selanjutnya

Tujuan selanjutnya merupakan tujuan utama travel kali ini, yaitu pulau komodo. Rasanya waktu itu sudah tidak sabar untuk melihat komodo di habitatnya. Selain di pulau komodo, pulau Rinca adalah pulau lain yang didiami komodo. Setelah mendarat di pelabuhan yang cukup bagus, kami melapor ke petugas/ranger untuk melakukan trekking. Ada 3 pilihan trekking, yaitu long, medium dan short distance.

Kami memilih short-medium karena waktu sudah sore dan juga mengukur kekuatan fisik kami. Perjalanan kami berlima ditemani ranger yang selain memberikan penjelasan juga menjaga kami jika sewaktu-waktu ada komodo yang menyerang. Setelah jalan sekitar setengah jam, di lokasi tempat minum buatan kami melihat 3 komodo yang baru istirahat, kelihatannya tidak berbahaya, diam seperti batu. Menurut ranger memang gaya komodo kalau baru istirahat seperti itu, namun kalau sudah aktif bisa mengejar kita. Setelah puas mengabadikan komodo tersebut, kami
melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan kurang lebih 1,5 jam, kami total melihat 10 komodo, disamping hewan lain seperti rusa, babi hutan, tupai dan aneka burung eksotis seperti burung kakak tua putih dan juga rajawali.

Hewan Komodo sedang berjalan santai

Hewan Komodo sedang berjalan santai

Komodo merupakan hewan karnivora (pemakan daging) dan makanan Komodo yang paling disukai bangkai binatang Rusa dan Bangkai binatang Kerbau. Berdasarkan hasil penelitian yang saya baca, Komodo mengendap-endap saat berburu mangsa hidup, Komodo melancarakan serangan gigitan tiba-tiba jika jarak mangsa sudah dalam jangkauanya. Mangsa yang sudah tergigit tidak lama kemudian mati secara perlahan akibat terkena bakteri yang berasal dari air liur Komodo.

Pada waktu dalam perjalanan pulang menuju ke kapal, kami mendapat kejutan yang mendebarkan. Tiba-tiba dari dalam hutan muncul komodo yang besar, lebih besar dari yang pernah kami lihat sebelumnya. Walaupun tidak ada cat hijau di punggungnya, sebagai kode komodo ganas, tetapi melihat cara jalannya sudah terlihat seram. Karena komodo tersebut berjalan di jalur yang akan kami lewati, guide kami menyarankan untuk menghindar di samping jalan dan berlindung di belakang pohon. Menurut ranger, komodo akan berjalan lurus jika tidak diganggu, serentak kami berempat berlindung di belakang kapten. Dengan harapan komodo akan tetap jalan melewati kami, tetapi dugaan kami salah.

Komodo tersebut ternyata berbelok ke arah kami dan langsung berjalan cepat, untung sang kapten membawa tongkat cabang dua yang diberi ranger. Dengan tongkat tersebut komodo berhasil dihalau dan ditahan lajunya, hal ini memberi kesempatan kami untuk lari secepatnya menuju kapal. Komodo itu pun berhasil diusir dan kembali ke hutan. Pengalaman menakjubkan di hari itu kami akhiri dengan melempar jangkar untuk bermalam pada area teluk di sebuah pulau kecil. Kebetulan ada kapal lain yang sedang bermalam juga di teluk tersebut, semua penumpangnya
merupakan turis asing. Saya melihat mereka benar-benar menikmati liburan dengan snorkeling, makan dan bercengkrama sampai malam. Benar-benar liburan yang indah.

Surga Tersembunyi di Pulau Padar

Pagi-pagi sekali setelah matahari terbit kami sudah memulai perjalanan. Tujuan kami adalah pulau Padar, salah satu pulau terbesar di Taman Nasional Komodo selain pulau Komodo dan pulau Rinca. Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam kami sampai di teluk pulau Padar. Untuk sampai pantai terpaksa kami menggunakan kano karena pantainya landai. Kalau diamati sepertinya lebih tinggi dari Giri Lawa, tetapi jalur trekkingnya agak landai. Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk dapat sampai ke puncaknya.

lanskape Pulau Padar sore hari

lanskape Pulau Padar sore hari

Rasa lelah dan panas langsung hilang begitu melihat sekeliling pulau. Karena posisinya paling tinggi sehingga kita bisa melihat pemandangan dengan leluasa. Bukit-bukit tidak beraturan dan tanpa tanaman, hanya rumput coklat yang sekarat. Seperti tidak merasa di indonesia, kami membayangkan di lokasi film Lord of the Ring, sebuah film yang di balut keindahan alam. Dari puncak juga terlihat teluk-teluk dengan pantai yang berbeda warna. Walaupun hanya dipisahkah bukit kecil, ada pantai dengan pasir hitam, putih bersih dan juga pantai pink.

Rasanya tidak mau turun menikmati keindahan tempat wisata taman nasional pulau komodo dari puncak Pulau padar. Akan tetapi karena hari mulai panas dan perjalanan masih panjang, kami pun dengan perlahan turun kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnyal yaitu pulau kambing. Disebut pulau kambing karena banyak kambing di pulau tersebut. Walaupun banyak kambing, alam bawah lautnya tidak kalah cantik dengan lokasi snorkeling lainnya, hanya saja disini banyak karang yang rusak terkena arus.

Setelah puas di pulau kambing kami pindah ke pulau sebelahnya dengan terumbu yang lebih terjaga, banyak soft coral dan ikan badut yang membuat snorkeling hari itu terasa tidak membosankan. Hanya karena alasan fisik saja yang membuat kami menghentikan aktifitas snorkeling seharian. Setelah itu kami meninggalkan pulau Pandar menuju pulau Kalong untuk bermalam sambil melihat ribuan atau bahkan ratusan ribu kalong yang keluar mencari makan. Malam itu kami tidur dengan pulas karena lelah mendaki pulau Pandar dan snorkeling tiada batas.

Hari terakhir di Taman Nasional Komodo sesuai schedule adalah perjalanan kembali ke Labuan Bajo dengan melewati pulau Bidadari. Rasanya berat meninggalkan Taman Nasional Komodo untuk kembali ke kehidupan seperti sediakala. Meskipun hanya 4 hari di Taman Nasional Komodo, hal itu menambah kebanggaan akan keindahan Indonesia. Apalagi tempat wisata Taman Nasional Komodo masuk dalam new 7 wonder dalam hal nature dengan segala kontroversinya. Benar-benar Amazing journey!

Leave a Reply